Khutbah Aidil Fitri

KHUTHBAH IEDUL FITRI
AL-FAQIH AL-MUHAQQIQ AL-HABIB ZEIN BIN IBRAHIM BIN SUMAITH HAFIDHAHULLAH

ABU HASAN-313

Amma ba’du, wahai muslim!

أكبر. الله أكبر. الله أكبر. الله أكبر.

الله أكبر. الله أكبر لا إله إلا الله. الله أكبر. الله أكبر. ولله الحمد.

الله أكبر كبيرا، والحمد لله كثيرا، وسبحان الله بكرة وأصيلا.

الله أكبر بفضله، الله أكبر بحلمه وعفوه، الله أكبر بجوده وكرمه، الله أكبر رفع السماوات بغير عمد، وبسط الأرض بغير عنت، وسخر الليل والنهار للعمل والسكن، وأنزل الغيث على عباده برحمته، وسخر الأفلاك دائرة بحكمته وقدرته.

الحمد لله الذي امتن علينا بنعمة الإسلام، وشرح صدورنا بنور الإيمان، وأفاض علينا بآلائه العظام حيث جعلنا من خير أمة أخرجت للناس، وأنزل علينا أعظم كتاب وأحكمه، ويسر لنا أمر طاعته، وبشر المتقين بجنته، وحذر المعرضين بأليم عقابه.

الحمد لله إله الأولين والآخرين، وقيوم السماوات والأراضين، ومالك يوم الدين، الذي لا عز إلا في طاعته، ولانعيم إلا في قربه، ولاصلاح للقلب ولافلاح إلا في الإخلاص له وتوحيد حبه.

الحمد لله الذي تفرد بالعظمة والبقاء، والعز والكبرياء، والجود والعطاء.

وله الحمد ما ذكره الذاكرون، وغفل عنه الغافلون، وله الحمد عدد خلقه، وزنة عرشه، ومداد، كلماته، ورضا نفسه.

قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِينَةَ اللَّهِ الَّتِي أَخْرَجَ لِعِبَادِهِ وَالطَّيِّبَاتِ مِنَ الرِّزْقِ ۚ قُلْ هِيَ لِلَّذِينَ آمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا خَالِصَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۗ كَذَٰلِكَ نُفَصِّلُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ (32)

Kenakanlah pakaian baru, hiduplah dengan mulia, dan matilah sebagai syahid. “ Katakanlah (Muhammad), “Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah disediakan untuk hamba-hamba-Nya dan rezeki yang baik-baik? Katakanlah, “Semua itu untuk orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, dan khusus (untuk mereka saja) pada hari Kiamat.” Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu untuk orang-orang yang mengetahui .” (QS. Al-A’raf: 32)

Allah menciptakan dunia ini semata untuk orang-orang mukmin dan mereka yang taat kepada-Nya. Dunia adalah bekal bagi orang-orang mukmin menuju akhirat. Di sana, mereka menjalankan ketaatan kepada Allah. Namun demikian,orang-orang kafir dan orang-orang keji juga menyertai orang-orang mukmin di dunia ini. Bagi mereka, dunia adalah kesenangan, tempat untuk mendapatkan segala kenikmatan, dan melampaiaskan segala syahwat.

Allah Ta’ala berfirman, “Katakanlah, “Semua itu untuk orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, dan khusus (untuk mereka saja) pada hari Kiamat.” Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu untuk orang-orang yang mengetahui.” (QS. Al-A’raf: 32) Khusus untuk orang-orang mukmin yang saleh di surga, tanpa disertai seorang pun dari orang-orang kafir dan fasik.

Allah Ta’ala berfirman, “Wahai hamba-hamba-Ku! Tidak ada ketakutan bagimu pada hari itu dan tidak pula kamu bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami dan mereka berserah diri. Masuklah kamu ke dalam surga, kamu dan pasanganmu akan digembirakan.” (QS. Az-Zukhruf: 68-70)

Dalam hadits disebutkan;

إِنَّ فِي الْجَنَّةِ لَغُرَفًا يُرَى بُطُونُهَا مِنْ ظُهُورِهَا، وَظُهُورُهَا مِنْ بُطُونِهَا وَفِيْهَا مِنَ النَّعِيْمِ مَا لاَ عَيْنٌ رَأَتْ، وَلاَ أُذُنٌ سَمِعَتْ، وَلاَ خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ قَالَ أَعْرَابِيٌّ: يَا رَسُولَ اللَّهِ لِمَنْ هِيَ؟ قَالَ: «لِمَنْ أَفْشَى السَّلاَمَ وَأَطَابَ الْكَلامَ، وَأَطْعَمَ الطَّعَامَ، وَصَلَّى لِلَّهِ بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ
“Sungguh, di dalam surga terdapat kamar-kamar yang bagian dalamnya terlihat dari luar, dan bagian luarnya terlihat dari dalam. Dan di dalamnya terdapat kenikmatan yang tidak pernah terlihat mata sebelumnya, tidak pernah terdengar telinga sebelumnya, dan tidak pernah terlintas di benak seorang pun sebelumnya.’ Seorang badui lantas bertanya, ‘Wahai Rasulullah! Untuk siapakah?’ Beliau menjawab, ‘Untuk orang yang menyebarkan salam, memperlembut tutur kata, memberi makan, dan shalat di malam hari ketika orang-orang tidur’.”

Oleh karena itu, jangan sampai negeri yang fana ini melalaikan Anda dari negeri akhirat yang kekal abadi, yang buah-buahannya dekat untuk dipetik, sungai-sungainya mengalir, istana-istananya gemerlapan, kehidupannya disukai, dan sifat-sifatnya tidak pernah berakhir.

Betapa hinanya orang yang menukarkan kerajaan besar dengan sesuatu yang hina dan sedikit. Betapa celaka orang yang beramal untuk negeri fana dan meninggalkan negeri kekal abadi. Andaikan dunia berupa emas, tetap saja akan lenyap. Dan andaikan akhirat berupa tembikar, tetap akan abadi selamanya. Lantas bagaimana padahal sebenarnya adalah sebaliknya?! Dunia hanyalah tembikar yang fana dan akhirat adalah emas yang kekal abadi.

Dan kehidupan dunia ini hanya senda-gurau dan permainan. Dan sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui.” (QS. Al-‘Ankabut: 64)
Hayawan adalah kekal, abadi, tidak fana, ataupun lenyap.

Dalam hadits disebutkan; Allah Tabaraka wa Ta’ala mengirim surat kepada salah seorang penghuni surga melalui seorang malaikat. Allah berkata kepada malaikat itu, “Sampaikalah surat ini kepada hamba-Ku si fulan, dan mintalah izin kepadanya. Jika ia mengizinkanmu masuk, masuklah.’ Malaikat kemudian pergi menemui hamba itu, ia kemudian meminta izin kepadanya dari balik tujuhpuluh tembok penghalang, lalu si hamba mengizinkan malaikat masuk, malaikat kemudian menyerahkan surat Allah itu kepadanya. Di dalamnya tertulis; ‘Dari Yang Maha Hidup, yang tidak mati, untuk yang senantiasa hidup dan tidak mati. Aku adalah Allah yang berfirman kepada sesuatu, ‘Jadilah!’ Maka jadilah ia. Pada hari ini, Aku telah menjadikanmu berkata kepada sesuatu, ‘Jadilah!’ Maka jadilah ia. Wahai hamba-Ku! Aku rindu kepadamu, maka berkunjunglah kepada-Ku.’ Hamba itu kemudian berkata kepada malaikat, ‘Apakah kau membawa tunggangan?’ Malaikat itu menjawab, ‘Ya.’ Ia kemudian naik Buraq lalu terbang menuju kerajaan-kerajaan Allah, Rabb seluruh alam’.”

Wahai muslim! Id bukanlah untuk orang yang mengenakan pakaian baru, tapi id adalah untuk orang yang ketaatannya kepada Allah meningkat. Id bukanlah untuk orang yang menghias diri dengan pakaian dan kendaraan, tapi id itu untuk orang yang dosa-dosanya diampuni. Id bukanlah untuk orang yang memakan makanan serba baik, menikmati segala syahwat dan kenikmatan. Tapi id itu milik orang yang tobatnya diterima, dan keburukan-keburukannya diganti kebaikan-kebaikan.

Seseorang bertamu menamui Amirul Mukminin Ali bin Abu Thalib radhiyallahu ‘anhu di hari ‘id ketika ia sedang memakan roti tanpa lauk, lalu orang tersebut berkata, “Wahai Amirul Mukminin! Hari ini adalah hari ‘id, tapi kau memakan roti seperti itu!’ Ali berkata, ‘Hari ini adalah hari id bagi kita. Besok adalah hari id bagi kita. Dan setiap hari dimana kita tidak berbuat maksiat kepada Allah, adalah hari id bagi kita.”

Wahai muslim! Makanan makanan yang baik, bersyukurlah kepada Allah, kenakanlah pakaian baru, dan bersyukurlah kepada Allah, karena syukur itu tali pengikat nikmat dan penyebab ditambahnya nikmat. Allah tidak hanya meridhai langgengnya nikmat bagi hamba yang bersyukur saja, tapi Allah juga menambahkan nikmatnya.

Allah Ta’ala berfirman, “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.” (QS. Ibrahim: 7)
Siapa bersyukur, ia mengikat nikmat, dan siapa tidak bersyukur, nikmatnya rentan lenyap.

“Yang demikian itu karena sesungguh-nya Allah tidak akan mengubah suatu nikmat yang telah diberikan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri. Sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.”
(QS. Al-Anfal: 53)

Yaitu dengan tidak mensyukurinya. Siapa menggunakan nikmat Allah untuk berbuat maksiat, maka ia telah kufur nikmat dan mengharuskan nikmatnya dicabut jika tidak segera bertobat kepada Allah. Jika pun nikmatnya tetap bertahan sementara ia terus menerus berbuat maksiat, maka nikmat tersebut merupakan istidraj dan makar dari Allah.

Allah Ta’ala berfirman, “Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, akan Kami biarkan mereka beransur-ansur (ke arah kebinasaan), dengan cara yang tidak mereka ketahui. Dan Aku akan memberikan tenggang waktu kepada mereka. Sungguh, rencana-Ku sangat teguh.” (QS. Al-A’raf: 182-183)

Betapa banyaknya nikmat yang Allah anugerahkan kepada hamba-Nya. Allah menciptakan Anda dari ketiadaan, selanjutnya Ia melimpahkan nikmat bantuan dari segala simpanan kemurahan dan kemuliaan-Nya, lalu Ia menyempurnakan nikmat itu dengan nikmat Islam yang merupakan nikmat paling agung. Andaikan seseorang bersungguh-sungguh sepenuhnya, dan beribadah kepada Allah sepenuhnya, tentu tetap tidak akan dapat menunaikan sebaikan saja di antara hak-hak-Nya, tentu tetap saja tidak akan dapat mensyukuri sebagian kecil nikmat-Nya.

Dalam sebuah hadits disebutkan; seorang hamba beribadah kepada Allah selama limaratus tahun di sebuah pulau. Ketika kematian datang kepadanya, ia memohon kepada Allah agar diwafatkan dalam keadaan bersujud. Pada hari kiamat, si hamba dihadapkan kepada Allah, lalu Allah berkata, “Wahai hamba-Ku! Masuklah ke surga dengan rahmat-Ku.’ Hamba itu berkata, ‘Dengan amalanku, wahai Rabb.’ Allah kemudian memerintahkan para malaikat untuk memperhitungkan amalan si hamba. Nikmat penglihatannya kemudian diperhitungkan, lalu nikmat tersebut setara dengan seluruh ibadah yang ia lakukan selama lima ratus tahun. Selanjutnya masih tersisa banyak nikmat lainnya yang belum disyukuri si hamba, lalu Allah memerintahkan si hamba dimasukkan ke dalam neraka. Si hamba lantas berkata, ‘Ya Rabb! Masukkanlah aku ke dalam surga dengan rahmat-Mu.’ Allah kemudian memerintahkan si hamba dimasukkan surga dengan rahmat-Nya’.”
“ Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sungguh, Allah benar-benar Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. An-Nahl: 18)

“Tidakkah kamu memperhatikan bahwa Allah telah menundukkan apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi untuk (kepentingan)mu dan menyempurnakan nikmat-Nya untukmu lahir dan batin. Tetapi di antara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu atau petunjuk dan tanpa Kitab yang memberi penerangan.” (QS. Luqman: 20)

Bagaimana bisa dibenarkan seorang hamba menikmati seluruh nikmat pemberian Allah, lalu melalaikan Rabb Yang memberikan nikmat?! Bagaimana urusan rezeki membuatnya sibuk hingga melalaikan ibadah kepada Sang Pencipta Yang Maha Pemberi rezeki?!

Padahal Dialah yang berfirman dalam kitab-Nya;
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki agar mereka memberi makan kepada-Ku. Sungguh Allah, Dialah Pemberi rezeki Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh.” (QS. Adz-Dzariyat: 56-58)

Yakinlah bahwa seseorang tidak akan mati sebelum menerima seluruh jatah rezekinya dan seluruh jatah ajalnya yang telah ditetapkan sejak zaman azali dan yang sudah tertulis di sisi Allah ‘Azza wa Jalla, karena ketika manusia diciptakan dan dibentuk rupanya oleh Allah di dalam perut ibunya, seorang malaikat diutus kepadanya, lalu malaikat diperintahkan untuk menulis rezeki dan ajalnya. Rezeki sudah ditetapkan jumlahnya, dan ajal sudah ditetapkan jumlah harinya. Kesungguhan orang yang bersungguh-sungguh tidak dapat menambah jatah rezekinya barang sedikit pun, dan kelemahan seseorang juga tidak mengurangi sedikit pun dari jatah rezekinya yang telah ditetapkan.

“Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rezekimu dan apa yang dijanjikan kepadamu. Maka demi Tuhan langit dan bumi, sungguh, apa yang dijanjikan itu pasti terjadi seperti apa yang kamu ucapkan.” (QS. Adz-Dzariyat: 22-23)
Rasulullah saw. bersabda;

إِنَّ رَوْحَ الْقُدُسِ نَفَثَ فِي رُوعِيَ أَنَّ نَفْسًا لَنْ تَمُوتَ حَتَّى تَسْتَكْمِلَ رِزْقَهَا وَتَسْتَوْعِبَ أَجَلَهَا فَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ وَلَا يَحْمِلَنَّ أَحَدَكُمُ اسْتِبْطَاءُ الرِّزْقِ أَنْ يَطْلُبَهُ بِمَعْصِيَةٍ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُنَالُ مَا عِنْدَهُ إِلَّا بِطَاعَتِهِ
“Sesungguhnya Ruhul Qudus (Jibril ‘alaihissalam) meniupkan di dalam hatiku bahwa suatu jiwa itu tidak akan mati sebelum menyempurnakan rezekinya dan menggenapkan ajalnya, maka carilah (rezeki) dengan baik (halal). Janganlah lambannya datangnya rezeki mendorong seseorang di antara kalian mencarinya dengan kemaksiatan, karena apa yang ada di sisi Allah tidaklah diraih dengan cara apapun selain dengan ketaatan kepada-Nya.”

Zakat Fitrah Menyempurnakan Ibadah Puasa

Bismillahirrahmanirrahim

Ada persoalan yang ditimbulkan mengenai pembayaran zakat dan zakat fitrah. Samada dalam bentuk makanan asasi atau matawang. Sedang sememangnya zakat fitrah itu menyempurnakan ibadah puasa hamba. Sabda Rasulullah SAW :

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رضي الله عنهما قَالَ : ( فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنْ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ

Dari Ibnu Abbas RA : Rasulullah SAW mewajibkan puasa dengan tujuan mensucikan ibadah puasa dari kekejian dan kekurangan serta memberi makan orang miskin.

Pada asalnya, seperti yang disebut didalam hadis tentang hal ini adalah dengan memberi makanan seumpama buah tamar, gandum, ataupun beras dan sebagainya. Ini bertepatan dengan hadis daripada Aadi bin Hatim sabda Nabi :

اتقوا النار ولو بشق تمرة، فمن لم يجد فبكلمة طيبة
“Takutlah kepada neraka Allah walaupun dengan sebiji tamar”
Riwayat Bukhari dan Muslim

Ini kerana pada ketika itu manusia sangat memerlukan kepada makanan, sebab itulah kita dapati hukum hukum Kafarah orang yang bersumpah dusta termasuk juga antaranya memberi makan orang susah seramai 10 orang miskin. Kafarah Zihar- 60 orang miskin, bersetubuh ketika Ramadhan disiang hari – memberi makan 60 orang miskin dan sebagainya.

Bahkan memberi makan kepada mereka yang memerlukan termasuk antara amalan yang sangat mulia dalam Islam. Kerana pada ketika itu, manusia sangat memerlukan kepada makanan. Namun realiti kehidupan kita pada hari ini serta tuntutan keperluan hidup sudah pun berbeza. Seumpama keperluan perubatan, pemakaian, persekolahan, sangat menagih kepada bantuan dan juga pertolangan daripada mereka yang berkeupayaan. Sebab itulah para ulama telah mengharuskan melalui realiti ini seperti pendapat berikut :

1. Imam Abu Hanifah berkata : HARUS bagi pengeluar zakat membayarnya dengan nilai semasa. Penerima mampu untuk memanfaatkan nilai itu dengan bentuk yang lebih luas jika dibandingkan dengan barang makan yang diberi.

Sabda Nabi SAW :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِي اللَّهم عَنْهم أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَيْسَ الْمِسْكِينُ الَّذِي يَطُوفُ عَلَى النَّاسِ تَرُدُّهُ اللُّقْمَةُ وَاللُّقْمَتَانِ وَالتَّمْرَةُ وَالتَّمْرَتَانِ وَلَكِنِ الْمِسْكِينُ الَّذِي لَا يَجِدُ غِنًى يُغْنِيهِ وَلَا يُفْطَنُ بِهِ فَيُتَصَدَّقُ عَلَيْهِ وَلَا يَقُومُ فَيَسْأَلُ النَّاسَ

Zakat fitrah itu memberi makan kepada org miskin. Namun kemiskinan yg didefinisikan oleh Nabi seperti di dalam Hadis sohih ialah bukanlah yang dimaksudkan dengan miskin itu orang yang tawaf merayu simpati dari orang lain dengan sesuap atau dua suap makanan, atau sebiji atau dua biji tamar, tetapi miskin itu orang yang tidak memiliki sesuatu untuk membantu kehidupannya maka mereka diberi sedekah.

Sehubungan itu orang yang tidak memiliki perkara yg mencukupi untuk kehidupannya ialah orang yang tidak memiliki harta , bukanlah yang tidak memiliki makanan. Dari definisi hadis inilah para ulama mengambil dalil HARUS mengeluarkan zakat fitrah dengan nilai matawang demi tujuan memenuhi keperluan orang yang susah.

Sebenarnya pandangan seumpama ini bukan sekadar terpencil menurut mazhab Hanifah, namun bersama mereka ramai lagi para ulama feqah samada dari Syafie mahupun Maliki. Demikian juga Imam Bukhari, As Sauri, Hasan Basri dan lain-lain dari mereka.

IMAM BUKHARI membawa nas harusnya membayar zakat dengan nilai matawang yang matannya “Barangsiapa yang telah cukup bilangan untanya hendaklah dia berzakat dengan seekor jiz’ah (anak unta) jika dia tidak memiliki anak unta dan dia juga boleh diambil dari 2 ekor kambing ataupun 20 dirham.”

2. Ata’ Bin Abi Rabah dalam membawa khabar dari Khumaid dari Abu Aswad dari Ibn Lahiaj dari Yazid bin Abi Habib sesungguhnya Umar bin Abd Aziz telah menulis “hendaklah diambil pada setiap seorang itu setengah dirham zakat fitrah” berkata Yazid “ketetapan ini telah dilaksanakan sehingga ke hari ini”

3. Hasan Al Basri RH didalam musannif Ibn Abi Syaibah membawa berita dari Waqi’ dari Sufyan dari Hisyam dari AlHasan berkata : “tidak mengapa mengeluarkan zakat dengan matawang sebagai zakat fitrah”

4. Umar bin Abd Aziz RH juga telah menulis surat kepada pegawainya di Basrah supaya ahli majlis mengutip zakat dengan kadar setengah dirham.

5. Sufyan Assaauri RH disebutkan oleh ahli hadis Ibn Zanjawih Humaid bin Mukhlad Al Azdi didalam kitab Al Amwal , Humaid telah memberi khabar kepada kami dari Muhammad bin Yusuf dari Hisyam dari AlHasan berkata “seandainya zakat fitrah dikeluarkan dengan satu dirham, maka dia telah mendapat ganjarannya” Sufyan telah berkata “Jika dikeluarkan nilai sebanyak setengah cupak dari gandum, ia juga telah dikira pahala”

6. Adapun perbahasan hadis Rasulullah yang telah mewajibkan zakat fitrah secupak dari tamar dan secupak dari gandum telah membawa maksud kewajipan kadar yang sesuai dengan penggunaan bahasa menurut bangsa arab.

7. Adapun firman Allah Surah At Taubah ayat 103 “Hendaklah kamu mengambil dari harta mereka itu sedekah” ayat ini masih mutlak dan tidak menyatakan bentuknya, maka ia memberi keluasan kepada ulama untuk berijtihad.

8. Seperti yg diriwayatkan dari Dar AlQutni dan lainnya bahawa Muaz bin Jabal berkata kepada orang Yaman “Keluarkan zakat kamu dengan bayaran berbentuk ‘Khamis’ atau ‘Labis’ yang menggantikan gandum dan tepung kerana itu lebih mudah bagi kamu dan lebih memberi manfaat kepada muhajirin. Khamis adalah pakaian yg direka cipta panjangnya 5 hasta, oleh seorang yang bernama Khams untuk raja di Yaman. Apa yang telah dilakukan ini tidak mendapat penafian atau pengingkaran dari Nabi SAW iaitu menggantikan pakaian dengan makanan.

9. Berlakunya penggantian zakat daripada unta kepada kambing , sebagai bukti boleh ditukar ganti bentuk pembayaran zakat itu.

10. Di dalam Mazhab Syafie sendiri, Imam Nawawi telah berkata “diantara perkara yg menjadi Dhururah apabila mengeluarkan zakat dengan bentuk nilaian harga, juga mendapat ganjaran, sepertimana yg telah ditetapkan oleh pemerintah dengan nilai harga untuk diambil sebagai zakat dengan nilai yg sah” Pendapat ini telah diputuskan oleh majoriti ulama’ Syafie dan ulama’ Iraq seumpama Syeikh Abi Hamid, AlQadi abi tayyib, Al Mahamili di dlm kitabnya Sohib AlHawi seperit yg dinaskan oleh imam syafie didalam kitab ‘Um’ (sesungguhnya zakat diterima dengan bayaran nilai)

Wallahualam

 

Pendapat Ulamak Tentang Hukum Sembahyang Raya

Pertama
Wajib bagi setiap Individu. Berdalil kepada Rasulullah SAW, yang sentiasa mendirikannya ketika hayat Baginda, tidak pernah meninggalkannya walaupun sekali. Dan Rasulullah tidak mendirikan solat sunat secara berjamaah kecuali Tarawikh, Khusuf, serta dua hari Raya. Pendapat ini dari Mazhab Hanafi .

Kedua
Pendapat kedua menyatakan ia Sunnah Muaakad. Sunat yang sangat dituntut. Mazhab Syafie dan Maliki berdalil kepada soalan Sahabat kepada Nabi SAW : Wahai Rasulullah adakah lagi sembahyang yang wajib kami laksanakan selain 5 Waktu? Jawab Baginda SAW : Tiada. Hadis Muttafaq

Ketiga
Solat Hari Raya hukumnya Fardhu Kifayah. Ini pendapat Mazhab Hambali. Mereka berdalil kepada ayat akhir Surah Sauthar : “Maka Sembahyang kesisi Tuhan Kamu dan berkorbanlah”. Serta kerana Rasulullah SAW sentiasa melaksanakannya tanpa tertinggal pun. Ditambah pula ia adalah antara Syiar Agama yang besar.

Perbezaan ini menunjukkan betapa penting dan utamanya Sembahyang Hari Raya. Dan betapa ia mempunyai kedudukan yang tinggi disisi Rasulullah SAW. Disamping ia memberi manfaat besar kepada Ummah dalam pelbagai sudut kehidupan.

SELAMAT HARI RAYA ZAHIR BATIN

#Wallahuaalam

 

Hilal Ramadhan Dan Syawal: Nikmat Masa Yang Disyukuri Bukan Di Persenda

Hilal bermakna anak bulan. 

Setiap perkara yang menyempurnakan amalan yang wajib maka perkara itu menjadi wajib. Seumpama menunaikan ibadah puasa ramadhan adalah wajib, maka mengetahui awal ramadhan itu melalui terbitnya anak bulan adalah wajib. Begitu juga mengetahui awal syawal sebagai hari yg diharamkan berpuasa adalah wajib, maka untuk mengetahuinya melalui rukyah hilal menjadi wajib kerana dibimbangi kita berpuasa dihari yg diharamkan. Ini berdasarkan kepada hadis Abu Hurairah yg diriwayatkan oleh Muslim “Puasalah dengan menengok anak bulan dan juga berayalah dengan menengok anak bulan” . Jika terlindung daripada pandangan kamu maka sempurnakanlah 30 hari. Sebagaimana dalam hadis,

عن أبي هريرة رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال صوموا لرؤيته وأفطروا لرؤيته فإن أغمي عليكم فأكملوا شعبان ثلاثين ، وأخرجه مسلم

Jelas daripada muqaddimah ini rukyah hilal (melihat anak bulan) adalah wajib dan ia merupakan ibadah. Barangsiapa yang melaksanakannya atau menengoknya atau menerima perkhabarannya, ia telah menghidupkan sunnah ibadah dan beroleh pahala disisi Allah SWT. Bahkan baginda Rasulullah SAW apabila menengok atau menerima perkhabaran tentang munculnya anak bulan berdoa dengan doa :

اللهم أهله علينا بالأمن والإيمان والسلامة والإسلام ربي وربك الله هلال رشد وخير

“YaAllah telah muncul kepada kami anak bulan dengan penuh keamanan, keimanan, keselamatan dan keislaman . Tuhan aku dan tuhan kamu adalah Allah dan dngn terbitnya bulan ini penuh petunjuk dan kebaikan”

Penyampai Khabar

Mereka juga orang yang mempunyai kedudukan di sisi agama kita , dan Rasulullah sendiri telah memberi penghargaan kepada mereka yang menyampaikan berita tentang nampaknya anak bulan/ terlihatnya anak bulan. Walaupun si pembawa berita itu orang biasa atau siapa jua seperti di dalam sebuah hadis

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ’, جَاءَ أَعْرَابِيٌّ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ إِنِّي رَأَيْتُ الْهِلَالَ فَقَالَ أَتَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ قَالَ نَعَمْ قَالَ أَتَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ قَالَ نَعَمْ قَالَ يَا بِلَالُ أَذِّنْ فِي النَّاسِ فَلْيَصُومُوا غَدًا

Dari Ibnu Abbas berkata : telah datang kepada Nabi orang arab dan mengatakan “saya telah nampak anak bulan” Nabi bersabda “tidakkah kamu mengucap Tiada Tuhan melainkan Allah” dia berkata “ya” Nabi bersabda “Tidakkah kamu mengucapkan Nabi Muhammad pesuruh Allah” dia berkata “ya”. maka nabi bersabda “wahai bilal, maklumkan kepada org supaya berpuasa pada hari esok”

Sehubungan dengan itu, jelas daripada hadis ini menengok anak bulan bukan sekadar satu kewajipan menentukan waktu berpuasa, berbuka dan hari raya, tetapi ia juga sebuah ibadah yang tidak boleh dipersendakan.

Perbezaan Waktu

Allah berfirman dlm Surah AlMulk

الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ طِبَاقًا ۖ مَّا تَرَىٰ فِي خَلْقِ الرَّحْمَٰنِ مِن تَفَاوُتٍ ۖ فَارْجِعِ الْبَصَرَ هَلْ تَرَىٰ مِن فُطُورٍ

“Dia lah yang telah mengaturkan kejadian tujuh petala langit yang berlapis-lapis; engkau tidak dapat melihat pada ciptaan Allah Yang Maha Pemurah itu sebarang keadaan yang tidak seimbang dan tidak munasabah (jika engkau ragu-ragu) maka ulangilah pandanganmu , dapatkah engkau melihat sebarang kecacatan?”

Perbezaan ini adalah fitrah yang dicipta Allah, berselisihnya siang dan malam, jauh dan dekat, terang dan gelap, sejuk dan panas, semua ini mempengaruhi peredaran yg berbeza diantara satu tempat dan tempat yang lain. Ia juga memberi kesan kepada pergerakan bulan, matahari dan bumi. Allah juga berfirman,
Surah Al Imran ayat 90

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِّأُولِي الْأَلْبَابِ

“Sesungguhnya penciptaan langit dan bumi, serta pertukaran malam dan siang adalah tanda (yang merupakan) sebagai pengajaran bagi orang yang bijak.

Badan Bertanggungjawab

Apabila sesuatu pentadbiran ‘Ulil Amri’ dikekangi oleh keluasan sempadan, ramainya penduduk, ditambah lagi dengan memelihara kesatuan ummah maka tidak salah jika ulil amri mengambil wakil untuk bertanggungjawab berhisab dan berukyah seterusnya memaklumkan kepada ulil amri untuk diumumkan dan tidak salah juga orang ramai mengambil maklum dan bersandar kepada keputusan mereka. Ini berdasarkan kepada hadis sohih dari Ibn Umar RA dan diriwayatkan didalam sunan dan disohihkan oleh Ibn Khuzaimah dan Ibn Hubban.

Kesimpulannya, tidak hairanlah bila berlaku perbezaan hari (berpuasa,berbuka, sambutan aidulfitri dan aiduladha) demikian juga waktu mendirikan solat.
Kita bersyukur kehadrat Ilahi pada tahun ini 1 Ramadhan bertepatan pada (17 Mei 2018 ) dan mengikut hisab serta rukyah dijangkakan pada tahun ini genap 30 hari kita bakal berpuasa. Walaubagaimanapun menurut falak, anak bulan syawal juga mampu dilihat jika cuaca cerah yang menandakan hari Jumaat adalah 1 Syawal. Mudah mudahan dengan ibadah rukyah, puasa dan qiam, bertambah iman dan takwa kita, dijauhkan Allah untuk kita mempermudahkan serta mempersendakan ibadah ini.

 

Pendapat Yang Tetap Tentang Tidak Gugurnya Jumaat Dengan Sembahyang Hari Raya.

Segala puji bagi Allah ,selawat dan salam keatas junjungan Nabi kita Rasulullah ﷺ serta keluarga dan sahabatnya.
Kami telah didatangi beberapa soalan yg dikemukakan melalui media sosial atau secara langsung tentang adakah solat Jumaat itu tidak wajib setelah terdirinya solat hari raya yang jatuh pada hari Jumaat?

Jawapan:
Pendapat yang mengatakan gugurnya solat Jumaat adalah bertentangan dengan majoriti ulama sebagai keterangannya;

1) Majoriti ulama Islam sama ada mazhab Hanafi, Maliki dan Syafi’e mahupun sebahagian ulama Hambali berpendapat wajib menunaikan solat Jumaat walaupun ia berlaku pada hari yg sama.

Menurut Imam Abu Abdullah Ad Dimaski di dalam kitab beliau yang berjudul ‘Rahmatul Ummah Fi Ikhtilafil A’immah’ : ( pendapat Syafi’e yg paling sahih bahawa solat Jumaat mesti dilaksanakan oleh orang yang bermukim dan bermustautin)

2) Pernah Nabi ﷺ memberi kelonggaran kepada mereka yang tinggal jauh daripada kota Madinah lebih daripada 3km untuk menunaikan solat Jumaat pada ketika itu namun hujjah ini hanya dinaskan kelonggaran kepada mereka yang jauh untuk bergerak atau berulang alik.

3) Sembahyang raya itu adalah sunat sahaja sedangkan Jumaat itu adalah fardhu. Bagaimana yang sunat boleh menggugurkan yang fardhu. Rasulullah ﷺ telah menunaikan sembahyang sunat dan juga sembahyang Jumaat walaupun pada hari yang sama. Wallahua’lam.

 

 

Fitnah

Ingat lah bahawa fitnah itu lebih tenat dari membunuh. Kalaupun perkara itu yang benar sekalipun harus kita cuba sedaya mungkin menutup keaiban seseorang dan ia memang diperintah oleh agama dan merupakan nilai mulia dalam hidup berperikemanusian. Sabda Rasulullah SAW dalam sebuah hadis Riwayat Muslim :

مَنْ سَتَرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ فِي الدُّنْيَا سَتَرَهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ

 

Barangsiapa menutup (aib) saudara seagamanya nescaya Allah memelihara aibnya didunia dan diakhirat.

Jika benar ada keaiban yang berlaku maka masih dituntut untuk ditutupi dengan tujuan untuk tidak menelanjanginya. Ia bukan tujuan untuk membenarkan dan merestui kesalahan tetapi yang salah hanya perlu dihukum setimpal dengan perilakunya setelah didapati bersalah bukan diaibkan seperti yang berlaku akhir-akhir ini.

Bagaimana jika tiada berlaku keaiban atau belum pasti berlakunya kesalahan malah ianya masih duduk dalam tanda tanya dan pertikaian. Maka Tabaiyun adalah didikan yang telah difitrahkan Allah. Surah al hujurat ayat 6 Allah berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَن تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

 

Wahai orang-orang yang beriman jika datang kepada kamu seorang fasik membawa berita maka hendaklah kamu teliti (terlebih awal) kerana dibimbangi menimpanya, sesuatu pihak dengan hukuman yang (kamu) dalam kejahilan sehingga dengan itu kamu bakal menyesal.

PAYAH

Tentunya nasihat seumpama ini menjadi sesuatu yang sukar untuk diaplikasi apatah lagi jika diselubungi dendam kesumat yang menebal. Pastinya tiada ketenangan akan diperolehi dari nasihat ini. Pepatah Islam ada menyatakan:

وَلَكِنَّ عَينَ السُخطِ تُبدي المَساوِيا

 

Pandangan benci itu menutup segala kebaikan (orang lain).

Tapi apakan daya atas didikan agama tetap kita pasti akan terus menyampaikan dengan nasihat. Sabda Rasulullah saw :

الدين النصيحة قيل: لمن يا رسول الله؟ قال: لله، ولكتابه، ولرسوله، ولأئمة المسلمين وعامتهم

 

Agama itu nasihat. Ditanya untuk siapa wahai Rasulullah SAW : Untuk Allah, Untuk KitabNya, Untuk RasulNya dan untuk para pemimpin dan seluruh mereka.

Memang menjadi sesuatu yang susah dalam hal ini namun kita tetap hanya perlu berkata benar dan membantu semua demi kebaikan sejagat. Bagi mereka yang bersalah kita perakui tetapi jangan diiklankan manakala yang benar kita katakan benar dan jangan sama sekali  persendakan.

KENAPA PERLU DIAIBKAN

Rumah siap pahat masih berbunyi. Itulah kata hikmat pusaka orang tua-tua kita. Dalam persoalan menyampaikan kebenaran ini kadangkala kita yang menulis ini akan dianggap berniat menonggak arus ataupun menyekat ombak dan badai. Namun atas dasar nasihat serta ingatan sesama ummah ianya mesti dilaksanakan. Menyedari hakikat bahawa PRU 14 sudahpun selesai dan rakyat telahpun membuat pilihan masing-masing maka  keputusan yang sudah pun dimuktamadkan itu perlu diterima oleh setiap apihak. Apa yang wajar pada ketika ini adalah kerja-kerja membangunkan negara serta kelangsungan hidup rakyat perlu dilaksanakan secara serius dan berfokus sebagaimana yang telah dibuktikan oleh kerajaan sebelum ini.

Namun apa yang membimbangkan ialah rakyat dipersembahkan dengan perkara-perkara tidak wajar yang tiada kepentingan kepada negara. Isu bekas Perdana Menteri  perlu ditangani penuh teliti dan tanpa diseret rakyat untuk sama-sama menjadi polis dan hakim. Rakyat perlu mengetahui isu dan cerita sebenar tetapi sempadan-sempadan dan nilai keagamaan juga perlu diambil kira. Janganlah pula menambah garam dan lada kerana ia hanya akan merosakan diri dan negara.

PENGAMATAN

Jika sekalipun Dato Sri Najib Tun Abdul Razak bersalah, adalah harus pengaiban keatas dirinya dielakkan. Bukankah itu bercangah dengan semangat kemanusiaan itu sendiri. Apatah lagi didikan agama kita Islam yang sangat menegah dan melarangnya. Allah menegaskan dalam surah al hujurat ayat 12 :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ

 

Wahai orang-orang Yang beriman elakanlah dari bersangka serong, sebahagian dari sangkaan itu (Salah) berdosa. Janganlah kamu mencari-cari (keaiban) orang lain. Jangan kamu mencaci (dengan keburukan) terhadap sesama kamu. Adakah kamu suka memakan bangkai saudara kamu sendiri. Bertakwalah kepada Allah sesungguhnya Allah Maha Menerima Taubat dan Maha Penyayang.

Kita hanya perlu menyerahkan kepada pihak berwajib dan badan kehakiman. Mereka mesti bertanggunjawab sepenuhnya berasaskan ketelusan, bukti, saksi dan landasan hukum yang benar. Ini bukan sahaja dapat menyelesaikan isu dengan saksama tetapi juga mampu menzahirkan keberkatan dalam pemerintahan dan hubungan sesama manusia.

Bagaimana pula jika Dato Sri Najib tidak bersalah. Maka segala lontaran dan kecaman itu pula menjadi sebuah fitnah dan ia adalah sangat-sangat ditegah dalam agama kita. Allah menegaskan dalam ayat 191 surah al Baqarah :

وَالْفِتْنَةُ أَشَدُّ مِنَ الْقَتْلِ ۚ
Dan Fitnah itu lebih dahsyat dari membunuh.

Dari fitnah kita berdosa. Darinya juga kita menyakitkan mangsa. Darinya juga kita mengelirukan masyarakat. Darinya juga menunjukkan penghukuman tanpa hak tetapi dipengaruhi oleh situasi tekanan emosi. Darinya juga kita memungkinkan pembunuhan.

 

WALIYAZUBILLAH

Pendek kata terhimpun didalam fitnah itu bermacam keburukan serta akibat negatif kepada Agama dan orang ramai.

Adalah benar bahawa kita boleh menyiasat dan meneliti sebarang kes yang didakwa pada bila masa dan waktu jika terdapat arahan berkenaan.Namun kita pula tidak boleh terus mendedah sebelum pihak kehakiman membicara dan menyatakannya.

Apatah lagi jika perkara yang disiasat tertumbuh padanya keraguan dan belum ada pengesahan. Tindak tanduk penyiasatan yang terburu-buru dan kelihatan bermuslihat hanya akan membangkitkan kekhuatiran rakyat kepada prinsip keadilan dalam undang-undang. Pada akhirnya apa yang dapat dilihat ialah persoalan kepada kredibiliti pihak berkuasa yang seolah-olah didorong bertindak secara rapuh. Kaedah ada menyebut :

الدليل اذا تطرق به الإحتمال سقط به الإستدلال.

 

Sesuatu dalil atau bukti bila tersentuh padanya kebarangkalian maka gugur padanya berhujah.

Bersihkanlah diri kita dahulu dari kesilapan dalam bertindak. Jangan kita diaibkan oleh diri kita sendiri atas kesilapan.

 

DIRINYA BERSAKSI

Firman Allah dalam surah Yusuf ayat 6 :

وَشَهِدَ شَاهِدٌ مِّنْ أَهْلِهَا

 

Dan telah bersaksilah dikalangan mereka sendiri.

Banyak dari kenyataan yang dibuat oleh kepimpinan terbaru dalam Kerajaan PH yang menyatakan ada kebenaran dan keberhasilan dalam usaha yang telah dijalankan oleh Dato Sri Mohd Najib. Isu-isu yang dipertikai secara umum sebelum ini oleh PH  berkait ekonomi kerapkali menyebut kegagalan kerajaan terdahulu sehingga negara hampir muflis dan bankrap. Namun kenyataan terkini mereka memperakui ekonomi negara dalam keadaan teguh. BR1M sebagai usaha murni Dato Sri Najib untuk sedaya mungkin meringankan beban rakyat, dulunya dianggap dedak kini diterima  PH yang juga berminat meneruskannya kecuali jika ego mereka mengatasi kembali pertimbangan mereka mungkin dihapuskan wallahu’alam. Isu percukaian pun masih dalam pertimbangan diantara GST dan SST. Walau apa pun pilihan sistem cukai nanti, apa yang pasti dan penting ialah ia adalah cukai yang bakal dikutip kepada kumpulan yang telah dikenal pasti. Amat jelas sekali pelbagai dasar dan projek yang telah dilaksanakan terpaksa diperakui kebaikan dan bercadang meneruskannya. Tahniah Dato Sri Mohd Najib yang telah membawa idea positif sehingga lawan pun memperakuinya.

RAMADHAN BULAN IBADAH

Apa-apapun isunya marilah kita serahkan kepada pihak berkenaan. Pertama sekali YABhg YB Dato Sri Mohd Najib seorang yang berjiwa besar. Beliau telahmenerima keputusan PRU dengan hati terbuka malah sanggup melepaskan jawatan parti kepada generasi seterusnya bagi memberi laluan kepada muka baru. Beliau tidak bekeras dengan tindakan pihak berkuasa dengan memberontak serta bangkit dijalanan walaupun pemimpin-pemimpin dahulu melakukan perkara demikian. Bahkan yang lebih manis beliau tidak pernah mengambil tidakan menangkap dan menghukum sehingga berkali-kali rusuhan jalanan diadakan sewaktu menjadi Perdana Menteri.

Kepada Pihak Penguatkuasa, jalankanlah siasatan jika benar ada dakwaan. Namun ikutilah lunas kemanusiaan dan fitrah keagamaan agar hasil kerja diberkati. Tiada keperluan untuk membuat pendedahan awal oleh kita sebagai penyiasat kecuali pihak hakiman telah mensabitkan kesalahan dan menghukum.

Kepada pihak juga mohon media berhati-hati ketika menyampaikan perkhabaran. Semua perkataan ada nilai disisi Rakib dan Atib. Allah tegaskan dalam surah Qaff ayat 18 :

مَّا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

Tidak ada yang terlafaz dari perkataan melainkan disana ada pencatat iaitu Rakib dan Atib.

Mungkin kita percaya dengan ingatan ini. Maka elok kita pelihara demi kebaikan kita. Mungkin juga ada yang ambil sambil lewa atau langsung tidak percaya maka pasti akibat yang lebih buruk dari sekarang bakal menimpa semua. Kerana bencana bila mendatang ia tidak memilih siapa.

Percaya yang benar itu tetap juga benar tidak dapat ditutup dengan wang ringgit serta kuasa. Yang salah tidak akan terpadam walaupun senegara manusia menghapuskannya.

Peliharalah Ramadhan kita dengan Ibadah serta amalan Redha disisi Allah.

Bila Lantik Menteri Besar

 

Sememangnya persoalan ini menjadi sebutan dan meriah dalam tempoh terdekat ini bukan hanya didalam negeri Pahang ini bahkan di seluruh negara kesan dari PRU 14.

Sebenarnya sebaik-baik kerja pertengahan ialah tidak dalam keadaan gopoh dan tidaklah pulak terlalu lewat.

Sabda Nabi SAW :

التأني من الله و العجلة من الشيطان

“Berurus secara berhemah dari Allah. Berurus secara gopoh pula dari Syaitan.”

Perlantikan pemimpin sememangnya sebuah kewajiban yang mesti disegerakan malahan ianya tidak boleh dilengahkan dan ditangguh. Namun dalam konteks negeri Pahang ,pengambilan masa yang sedikit lama dalam persoalan perlantikan Menteri Besar dalam tempoh terdekat ini bukanlah ia sebuah kelewatan yang mendesak kerana proses tersebut masih dalam tempoh yang dibenarkan. Amat jelas juga perlu disedari bahawa kerajaan sementara masih berfungsi sedang ia juga masih dari pihak yang mendapat mandat di PRU.

Angkat Sumpah atau Baiah ini juga diperlukan jika fitnah kecelaruan membelenggu kepimpinan dan rakyat. Walaupun begitu adalah penting dan utama untuk dipastikan bahawa kelangsungan yang terkawal serta perlantikan yang tepat dan mengambil kira aspek yang terbaik harus dipastikan terlaksana.

SIAPA MB PAHANG

Ketika terlantiknya Saiyidina Abu Bakar RA sebagai Khalifah selaku ketua negara sememangnya mengubat banyak situasi. Ia berikutan kejutan besar keatas umat Islam pada ketika itu diatas pemergian Junjungan Mulia SAW. yang sangat sukar diterima oleh segenap lapisan masyarakat Islam ketika itu.. Kejutan ini mendorong tekanan dalam jiwa Sahabat-sahabat pembesar termasuk Saiyidina Omar RA dan lain-lain. Keadaan ini sudah pasti dirasakan akan menyukarkan usaha kerajaan untuk membina semula.
Kerumitan pada ketika itu juga ditambah dengan desakan Ahli Madinah Ansar dan disanggah pula oleh golongan Muhajirin. Pertelagahan ini memerlukan satu tokoh yang benar mampu bertangungjawab disamping dihormati serta mempunyai tempat samada disisi pembesar-pembesar negara dan tokoh-tokoh tempatan samada kawan ataupun lawan.

Oleh sebab itu, tokoh yang sememang mendapat tempat dijiwa ramai adalah diantara 10 sahabat yang beroleh khabar gembira sebagai penghuni syurga. Walaubagaimanapun pemilihan mereka perlu menyerlahkan tokoh yang terbaik bukan sekadar disudut keislaman, pergaulan, pengurusan, kesungguhan dalam membela agama bahkan faktor usia dan pengalaman menjadi pengukur aras utama.

Maka pada ketika itu Saiyidina Abu Bakar RA menjadi pilihan. Kriteria Baginda RA sebagai seorang yang pertama memeluk Islam, disusuli pula ia sebagai sahabat yang paling rapat dan berjasa kepada agama dan Nabi SAW. Ia juga diperkuatkan lagi dengan usia Baginda RA yang sangat matang dan lebih berusia jika dibandingkan dengan sahabta-sahabat yang lain. Baginda RA juga amat berpengalaman dalam pengurusan.

Akhirnya, hasil dari pertimbangan teliti dan rapi ini kerajaan telah berjaya dibentuk dan dipulih kembali walaupun dunia Islam digegar dengan banyak isu besar seperti kewafatan Baginda, isu kemurtadan, keengganan sekelompok masyarakat dalam hal pembayaran zakat dan juga turut hampir berlaku pemberontakan.

Rasional inilah kita perlu pertimbang jika ingin memilih siapa yang layak menjadi ketua negeri di Pahang Darul Makmur. Kewajaran ini juga harus kita ambil kira tanpa prejudis dengan menafikan pembangunan yang telah kita kecapi di Pahang Darul Makmur.
Sebaik sahaja selesai PRU 14 dan telah memberi keputusan yang menyebelahi Pakatan Harapan telah mendorong Pahang membuat sebuah keputusan yang bijak dalam memilih kepimpinan. Pendekatan dalam pemilihan kepimpinan Pahang pasca Pru14 jelas sekali tidak didesak oleh tekanan provokasi atau sentimen emosi. Malah ia amat jelas berlandaskan kepada sebuah keterbukaan dan pengorbanan yang ingin memastikan pemeliharaan kepentingan pelbagai sudut.

Apabila tertubuh sebuah Kerajaan ia memerlukan pembinaan diplomatik yang bijak dan mampu mencari persefahaman dan mengelak kewujudan titik perbezaan serta pertelingkahan.

Tahap Hubungan pertama antara pemimpin dan orang ramai perlu diurus dengan betul dan tersusun agar mampu mendekatkan orang ramai dan pemimpin disamping memiliki jalan yang praktikal untuk mengatasi sebarang permasalahan.

Tahap Hubungan Kedua di antara kawan dan lawan perlu meneladani Baginda SAW dengan baik sekali sehingga berjaya meminimakan jumlah lawan dengan kaedah diplomasi Tauladan Peribadi dan ternyata kaedah dan cara ini sangat berkesan.

Tahap Hubungan Ketiga iaitu hubungan diplomasi dengan dunia luar juga sangat diperlukan. Namun diperingkat awal ini kita sangat perlu mengutamakan hubungan pertama dan kedua.

Maka hal ini sudah pasti perlu kepada jawapan yang rasional dan tidak sama sekali didasari oleh emosi yang didorong oleh sangkaan dan telahan.

LONG NAN MB DULU

Adalah benar Long Nan MB yang telah berkhidmat dalam tempoh penggal yang sudah lama. Namun perlu kita jelas bahawa prestasi baik dalam memacu PRU 14 dan sebelumnya merupakan satu faktor perlu kita dasari untuk meminta beliau menerajui negeri Pahang. Amat nyata sekali bahawa beliau banyak memberi perhatian dalam soal kebajikan rakyat Pahang samada memperkenalkan dana bagi tujuan pembasmian kemiskinan serta meningkatkan kadar bantuan dan peruntukan kepada JKM dan pihak yang berkenaan.

Dalam aspek pendidikan pula melalui Yayasan Pahang tumpuan yang jelas dalam meningkatkan pencapaian pendidikan rakyat Pahang melalui bantuan pendidikan kepada setiap peringkat pendidikan melalui BSR, BSM serta pelbagai geran IPTA yang sebelum ini tiada satu negeri pun melaksanakan dan akhirnya menjadi tauladan kepada banyak negeri.

Beliau sentiasa bersedia merungkai isu satu persatu tanpa mengira resolusi datang dari pihak mana selagi ia memberi faedah kepada rakyat dan negeri maka beliau akan usaha bersama. Mengambil contoh dalam isu alam sekitar dan air dimana semua pihak dipanggil berbincang untuk menegur dan memberi pandangan dan tindakan tersebut bagaikan menarik rambut didalam tepung.

Pembangunan Perumahan boleh dikatakan Pahang menjadi perintis apabila menjadi antara salah satu negeri awal di Malaysia mengambil tindakan proaktif dalam soal ini dengan memperkenalkan PR1MA Pahang yang telah memberi manfaat kepada rakyat di negeri Pahang yang memerlukan.Namun bak kata kaedah Fekah : “Benda yang tidak dibuat semua tidaklah pula ditinggalkan semua”.

Memang benar banyak lagi perlu diperkasakan diPahang. Pembangun ekonomi samada sumber pendapatan dan pembangunan disamping memelihara Negeri sebaik mungkin. Ini sebenarnya berjalan seiring melalui agensi yang telah dibina Kerajaan Negeri samada PKPP, PKNP, PASDEC dan lainnya selain dari Perbadanan Setiausaha Kerajaan.

Aset pendidikan juga sudah diperkasakan. Terbina Maahad Tahfiz yang sentiasa terkehadapan dalam penguasaan natijah bahkan mampu menzahirkan modal insan yang memberi pulangan positif kepada Negeri. Begitu juga Kipsas yang akhirnya diitiraf sebagai KUIPSAS. Ini adalah dua mercu tanda pendidikan yang sangat berkesan dinegeri Pahang.

Bagaimana Jika Long Nan Menolak

Nasihat agama itu jelas :

Amanah jangan dicari dan diminta diminta.

Rasulullah saw bersabda :

إنا لا نولّي هذا مَنْ سأله ، ولا من حرص عليه

“Kami tidak memberi jawatan ini kepada yang meminta-mintanya, tidak juga kepada yang teringin sangat. “

Bahkan wajar sujud syukur jika tidak dipilih untuk beramanah.

Tetapi tidak wajar pula menolaknya jika diminta untuk beramanah bahkan wajar bersabar apabila diminta melaksanakan. Jika tidak ia juga bakal dipersoal.
Sabda Rasulullah SAW :

كلكم راع وكلكم مسئول عن رعيته.

“Kamu semua Pemimpin dan kamu semua akan dipersoal soal kepimpinan kamu. “

Sehubungan itu kita sebagai pencinta agama wajar bermuhasabah dan tanpa tergopoh –gopoh memberi analisa. Tidak juga terlalu mendiam diri sehingga keadaan menjadi kusut. Kesabaran juga membawa keberkatan. Kerakusan akan hanya membawa kehancuran.

Majlis Pelancaran Kelas Tafaquh Fiddin Peringkat Daerah Temerloh

Israq 14 April 2017
Seadanya dari kami DUN Kerdau untuk penduduk setempat. Majlis Pelancaran & Keraian :

Pertamanya #KelasTafaquhFiddin
merupakan pengajian berbentuk konsisten, berkitab dan Guru bertauliah. Ia diadakan di Masjid Omar Abdul Aziz. Subjet Quran dan Tafsir, Feqah, Tauhid dan Hadis.

Keduanya : Meraikan 390 orang pelajar Kerdau dan DUN  berhampiran yang cemerlang UPKK mendapat keputusan 8A. Demi memberi sokongan kejayaan mereka.

Ketiga : Penyerahan Kit Kifayah bertujuan memudahkan penduduk setempat untuk mendapatkan oeralatan pengurusan jenazah. Ia peralatan anyg lengkap kafan berpotong, kapur barus, kapas, air mawar dan pewangi.
Seramai 2000 orang yang hadir bukan sahaja mengikut dan menyaksikan pelancaran berkenaan. Bahkan telah mendapatkan #TausiahIstimewa dari Penceramah Ustaz Uwais Qarani.

Terima Kasih Semua

#YayasanPahang
#JAIP.
#PegawaiDaerahTemerloh
#Penghulu.
#pengurusanMasjidOmar.

Israq 14 April Seadanya dari kami DUN Kerdau untuk penduduk setempat. Majlis Pelancaran & Keraian :Pertamanya…

Posted by Syed Ibrahim Syed Ahmad on Khamis, 13 April 2017

Sidang DUN Pahang: Pengurusan Zakat Dan Pengagihan

13 April 2017

9.00 pagi :
Bermula Hari Kedua Sidang DUN Pahang. Setelah bacaan Doa, Sesi Soal Jawab telah dibuka oleh YB Dato Sri Speaker. Sebagaimanabiasa Jawatankuasa Dakwah Islamiah turut dikemukan soalan mengenai pengurusan zakat dan pengagihan, soalan dikemuka oleh Adun Mentakab.
Menjelaskan pertanyaan..
Adapun mengenai kesedaran dan kempen pelbagai pendekatan telah diperkenalkan. Samada ceramah penerangan, baner, info grafik, kaunter2 yang dibuka diseluruh Pahang dan diwujudkan juga kaunter dibank2 serta kiosk.
Adapun mengenai kuitipan selama 4 Tahun kebelakangan ini ia telah berjaya dikutip dan diagih dengan sempurna mengikut asnaf yang ditetapkan.
Wakil Mentakab juga bertanya tidakkah zakat ini diagih kepada bukan islam juga seperti yang difatwa Maza.
Selaku wakil Kerajaan, sempat juga meluahkan rasa hairan atas kesungguhan Mentakab dalam soal zakat sedang Mufti Pahang rakan mereka teringin memberkasnya. Apa2pun Kerajaan Negeri menegaskan Rakan2 kita bukan Islam kita tidak diperintah agama untuk mengutip zakat dari mereka. Maka sudah pasti agihan juga menurut ajaran Islam tidak dapat diagih kepada bukan Islam. Namun ini bukan erti mereka dibiarkan namun Kerajaan ada pendekatan yang secara kosisten untuk membantu mereka.