Khutbah Aidil Fitri

KHUTHBAH IEDUL FITRI
AL-FAQIH AL-MUHAQQIQ AL-HABIB ZEIN BIN IBRAHIM BIN SUMAITH HAFIDHAHULLAH

ABU HASAN-313

Amma ba’du, wahai muslim!

أكبر. الله أكبر. الله أكبر. الله أكبر.

الله أكبر. الله أكبر لا إله إلا الله. الله أكبر. الله أكبر. ولله الحمد.

الله أكبر كبيرا، والحمد لله كثيرا، وسبحان الله بكرة وأصيلا.

الله أكبر بفضله، الله أكبر بحلمه وعفوه، الله أكبر بجوده وكرمه، الله أكبر رفع السماوات بغير عمد، وبسط الأرض بغير عنت، وسخر الليل والنهار للعمل والسكن، وأنزل الغيث على عباده برحمته، وسخر الأفلاك دائرة بحكمته وقدرته.

الحمد لله الذي امتن علينا بنعمة الإسلام، وشرح صدورنا بنور الإيمان، وأفاض علينا بآلائه العظام حيث جعلنا من خير أمة أخرجت للناس، وأنزل علينا أعظم كتاب وأحكمه، ويسر لنا أمر طاعته، وبشر المتقين بجنته، وحذر المعرضين بأليم عقابه.

الحمد لله إله الأولين والآخرين، وقيوم السماوات والأراضين، ومالك يوم الدين، الذي لا عز إلا في طاعته، ولانعيم إلا في قربه، ولاصلاح للقلب ولافلاح إلا في الإخلاص له وتوحيد حبه.

الحمد لله الذي تفرد بالعظمة والبقاء، والعز والكبرياء، والجود والعطاء.

وله الحمد ما ذكره الذاكرون، وغفل عنه الغافلون، وله الحمد عدد خلقه، وزنة عرشه، ومداد، كلماته، ورضا نفسه.

قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِينَةَ اللَّهِ الَّتِي أَخْرَجَ لِعِبَادِهِ وَالطَّيِّبَاتِ مِنَ الرِّزْقِ ۚ قُلْ هِيَ لِلَّذِينَ آمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا خَالِصَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۗ كَذَٰلِكَ نُفَصِّلُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ (32)

Kenakanlah pakaian baru, hiduplah dengan mulia, dan matilah sebagai syahid. “ Katakanlah (Muhammad), “Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah disediakan untuk hamba-hamba-Nya dan rezeki yang baik-baik? Katakanlah, “Semua itu untuk orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, dan khusus (untuk mereka saja) pada hari Kiamat.” Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu untuk orang-orang yang mengetahui .” (QS. Al-A’raf: 32)

Allah menciptakan dunia ini semata untuk orang-orang mukmin dan mereka yang taat kepada-Nya. Dunia adalah bekal bagi orang-orang mukmin menuju akhirat. Di sana, mereka menjalankan ketaatan kepada Allah. Namun demikian,orang-orang kafir dan orang-orang keji juga menyertai orang-orang mukmin di dunia ini. Bagi mereka, dunia adalah kesenangan, tempat untuk mendapatkan segala kenikmatan, dan melampaiaskan segala syahwat.

Allah Ta’ala berfirman, “Katakanlah, “Semua itu untuk orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, dan khusus (untuk mereka saja) pada hari Kiamat.” Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu untuk orang-orang yang mengetahui.” (QS. Al-A’raf: 32) Khusus untuk orang-orang mukmin yang saleh di surga, tanpa disertai seorang pun dari orang-orang kafir dan fasik.

Allah Ta’ala berfirman, “Wahai hamba-hamba-Ku! Tidak ada ketakutan bagimu pada hari itu dan tidak pula kamu bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami dan mereka berserah diri. Masuklah kamu ke dalam surga, kamu dan pasanganmu akan digembirakan.” (QS. Az-Zukhruf: 68-70)

Dalam hadits disebutkan;

إِنَّ فِي الْجَنَّةِ لَغُرَفًا يُرَى بُطُونُهَا مِنْ ظُهُورِهَا، وَظُهُورُهَا مِنْ بُطُونِهَا وَفِيْهَا مِنَ النَّعِيْمِ مَا لاَ عَيْنٌ رَأَتْ، وَلاَ أُذُنٌ سَمِعَتْ، وَلاَ خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ قَالَ أَعْرَابِيٌّ: يَا رَسُولَ اللَّهِ لِمَنْ هِيَ؟ قَالَ: «لِمَنْ أَفْشَى السَّلاَمَ وَأَطَابَ الْكَلامَ، وَأَطْعَمَ الطَّعَامَ، وَصَلَّى لِلَّهِ بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ
“Sungguh, di dalam surga terdapat kamar-kamar yang bagian dalamnya terlihat dari luar, dan bagian luarnya terlihat dari dalam. Dan di dalamnya terdapat kenikmatan yang tidak pernah terlihat mata sebelumnya, tidak pernah terdengar telinga sebelumnya, dan tidak pernah terlintas di benak seorang pun sebelumnya.’ Seorang badui lantas bertanya, ‘Wahai Rasulullah! Untuk siapakah?’ Beliau menjawab, ‘Untuk orang yang menyebarkan salam, memperlembut tutur kata, memberi makan, dan shalat di malam hari ketika orang-orang tidur’.”

Oleh karena itu, jangan sampai negeri yang fana ini melalaikan Anda dari negeri akhirat yang kekal abadi, yang buah-buahannya dekat untuk dipetik, sungai-sungainya mengalir, istana-istananya gemerlapan, kehidupannya disukai, dan sifat-sifatnya tidak pernah berakhir.

Betapa hinanya orang yang menukarkan kerajaan besar dengan sesuatu yang hina dan sedikit. Betapa celaka orang yang beramal untuk negeri fana dan meninggalkan negeri kekal abadi. Andaikan dunia berupa emas, tetap saja akan lenyap. Dan andaikan akhirat berupa tembikar, tetap akan abadi selamanya. Lantas bagaimana padahal sebenarnya adalah sebaliknya?! Dunia hanyalah tembikar yang fana dan akhirat adalah emas yang kekal abadi.

Dan kehidupan dunia ini hanya senda-gurau dan permainan. Dan sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui.” (QS. Al-‘Ankabut: 64)
Hayawan adalah kekal, abadi, tidak fana, ataupun lenyap.

Dalam hadits disebutkan; Allah Tabaraka wa Ta’ala mengirim surat kepada salah seorang penghuni surga melalui seorang malaikat. Allah berkata kepada malaikat itu, “Sampaikalah surat ini kepada hamba-Ku si fulan, dan mintalah izin kepadanya. Jika ia mengizinkanmu masuk, masuklah.’ Malaikat kemudian pergi menemui hamba itu, ia kemudian meminta izin kepadanya dari balik tujuhpuluh tembok penghalang, lalu si hamba mengizinkan malaikat masuk, malaikat kemudian menyerahkan surat Allah itu kepadanya. Di dalamnya tertulis; ‘Dari Yang Maha Hidup, yang tidak mati, untuk yang senantiasa hidup dan tidak mati. Aku adalah Allah yang berfirman kepada sesuatu, ‘Jadilah!’ Maka jadilah ia. Pada hari ini, Aku telah menjadikanmu berkata kepada sesuatu, ‘Jadilah!’ Maka jadilah ia. Wahai hamba-Ku! Aku rindu kepadamu, maka berkunjunglah kepada-Ku.’ Hamba itu kemudian berkata kepada malaikat, ‘Apakah kau membawa tunggangan?’ Malaikat itu menjawab, ‘Ya.’ Ia kemudian naik Buraq lalu terbang menuju kerajaan-kerajaan Allah, Rabb seluruh alam’.”

Wahai muslim! Id bukanlah untuk orang yang mengenakan pakaian baru, tapi id adalah untuk orang yang ketaatannya kepada Allah meningkat. Id bukanlah untuk orang yang menghias diri dengan pakaian dan kendaraan, tapi id itu untuk orang yang dosa-dosanya diampuni. Id bukanlah untuk orang yang memakan makanan serba baik, menikmati segala syahwat dan kenikmatan. Tapi id itu milik orang yang tobatnya diterima, dan keburukan-keburukannya diganti kebaikan-kebaikan.

Seseorang bertamu menamui Amirul Mukminin Ali bin Abu Thalib radhiyallahu ‘anhu di hari ‘id ketika ia sedang memakan roti tanpa lauk, lalu orang tersebut berkata, “Wahai Amirul Mukminin! Hari ini adalah hari ‘id, tapi kau memakan roti seperti itu!’ Ali berkata, ‘Hari ini adalah hari id bagi kita. Besok adalah hari id bagi kita. Dan setiap hari dimana kita tidak berbuat maksiat kepada Allah, adalah hari id bagi kita.”

Wahai muslim! Makanan makanan yang baik, bersyukurlah kepada Allah, kenakanlah pakaian baru, dan bersyukurlah kepada Allah, karena syukur itu tali pengikat nikmat dan penyebab ditambahnya nikmat. Allah tidak hanya meridhai langgengnya nikmat bagi hamba yang bersyukur saja, tapi Allah juga menambahkan nikmatnya.

Allah Ta’ala berfirman, “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.” (QS. Ibrahim: 7)
Siapa bersyukur, ia mengikat nikmat, dan siapa tidak bersyukur, nikmatnya rentan lenyap.

“Yang demikian itu karena sesungguh-nya Allah tidak akan mengubah suatu nikmat yang telah diberikan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri. Sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.”
(QS. Al-Anfal: 53)

Yaitu dengan tidak mensyukurinya. Siapa menggunakan nikmat Allah untuk berbuat maksiat, maka ia telah kufur nikmat dan mengharuskan nikmatnya dicabut jika tidak segera bertobat kepada Allah. Jika pun nikmatnya tetap bertahan sementara ia terus menerus berbuat maksiat, maka nikmat tersebut merupakan istidraj dan makar dari Allah.

Allah Ta’ala berfirman, “Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, akan Kami biarkan mereka beransur-ansur (ke arah kebinasaan), dengan cara yang tidak mereka ketahui. Dan Aku akan memberikan tenggang waktu kepada mereka. Sungguh, rencana-Ku sangat teguh.” (QS. Al-A’raf: 182-183)

Betapa banyaknya nikmat yang Allah anugerahkan kepada hamba-Nya. Allah menciptakan Anda dari ketiadaan, selanjutnya Ia melimpahkan nikmat bantuan dari segala simpanan kemurahan dan kemuliaan-Nya, lalu Ia menyempurnakan nikmat itu dengan nikmat Islam yang merupakan nikmat paling agung. Andaikan seseorang bersungguh-sungguh sepenuhnya, dan beribadah kepada Allah sepenuhnya, tentu tetap tidak akan dapat menunaikan sebaikan saja di antara hak-hak-Nya, tentu tetap saja tidak akan dapat mensyukuri sebagian kecil nikmat-Nya.

Dalam sebuah hadits disebutkan; seorang hamba beribadah kepada Allah selama limaratus tahun di sebuah pulau. Ketika kematian datang kepadanya, ia memohon kepada Allah agar diwafatkan dalam keadaan bersujud. Pada hari kiamat, si hamba dihadapkan kepada Allah, lalu Allah berkata, “Wahai hamba-Ku! Masuklah ke surga dengan rahmat-Ku.’ Hamba itu berkata, ‘Dengan amalanku, wahai Rabb.’ Allah kemudian memerintahkan para malaikat untuk memperhitungkan amalan si hamba. Nikmat penglihatannya kemudian diperhitungkan, lalu nikmat tersebut setara dengan seluruh ibadah yang ia lakukan selama lima ratus tahun. Selanjutnya masih tersisa banyak nikmat lainnya yang belum disyukuri si hamba, lalu Allah memerintahkan si hamba dimasukkan ke dalam neraka. Si hamba lantas berkata, ‘Ya Rabb! Masukkanlah aku ke dalam surga dengan rahmat-Mu.’ Allah kemudian memerintahkan si hamba dimasukkan surga dengan rahmat-Nya’.”
“ Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sungguh, Allah benar-benar Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. An-Nahl: 18)

“Tidakkah kamu memperhatikan bahwa Allah telah menundukkan apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi untuk (kepentingan)mu dan menyempurnakan nikmat-Nya untukmu lahir dan batin. Tetapi di antara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu atau petunjuk dan tanpa Kitab yang memberi penerangan.” (QS. Luqman: 20)

Bagaimana bisa dibenarkan seorang hamba menikmati seluruh nikmat pemberian Allah, lalu melalaikan Rabb Yang memberikan nikmat?! Bagaimana urusan rezeki membuatnya sibuk hingga melalaikan ibadah kepada Sang Pencipta Yang Maha Pemberi rezeki?!

Padahal Dialah yang berfirman dalam kitab-Nya;
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki agar mereka memberi makan kepada-Ku. Sungguh Allah, Dialah Pemberi rezeki Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh.” (QS. Adz-Dzariyat: 56-58)

Yakinlah bahwa seseorang tidak akan mati sebelum menerima seluruh jatah rezekinya dan seluruh jatah ajalnya yang telah ditetapkan sejak zaman azali dan yang sudah tertulis di sisi Allah ‘Azza wa Jalla, karena ketika manusia diciptakan dan dibentuk rupanya oleh Allah di dalam perut ibunya, seorang malaikat diutus kepadanya, lalu malaikat diperintahkan untuk menulis rezeki dan ajalnya. Rezeki sudah ditetapkan jumlahnya, dan ajal sudah ditetapkan jumlah harinya. Kesungguhan orang yang bersungguh-sungguh tidak dapat menambah jatah rezekinya barang sedikit pun, dan kelemahan seseorang juga tidak mengurangi sedikit pun dari jatah rezekinya yang telah ditetapkan.

“Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rezekimu dan apa yang dijanjikan kepadamu. Maka demi Tuhan langit dan bumi, sungguh, apa yang dijanjikan itu pasti terjadi seperti apa yang kamu ucapkan.” (QS. Adz-Dzariyat: 22-23)
Rasulullah saw. bersabda;

إِنَّ رَوْحَ الْقُدُسِ نَفَثَ فِي رُوعِيَ أَنَّ نَفْسًا لَنْ تَمُوتَ حَتَّى تَسْتَكْمِلَ رِزْقَهَا وَتَسْتَوْعِبَ أَجَلَهَا فَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ وَلَا يَحْمِلَنَّ أَحَدَكُمُ اسْتِبْطَاءُ الرِّزْقِ أَنْ يَطْلُبَهُ بِمَعْصِيَةٍ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُنَالُ مَا عِنْدَهُ إِلَّا بِطَاعَتِهِ
“Sesungguhnya Ruhul Qudus (Jibril ‘alaihissalam) meniupkan di dalam hatiku bahwa suatu jiwa itu tidak akan mati sebelum menyempurnakan rezekinya dan menggenapkan ajalnya, maka carilah (rezeki) dengan baik (halal). Janganlah lambannya datangnya rezeki mendorong seseorang di antara kalian mencarinya dengan kemaksiatan, karena apa yang ada di sisi Allah tidaklah diraih dengan cara apapun selain dengan ketaatan kepada-Nya.”

KOMEN DI FACEBOOK

1984total visits,5visits today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.